Umum

Abbasiyah

Masuknya Islam ke Mesir dan Perkembangan Islam di Mesir

Islam pertama masuk ke Mesir diawali dengan ekspansi di beberapa wilayah seperti Syria, Irak , Mesir, Persia, Palestina dan lain-lain yang dilakukan oleh Umar bin Khattab (13 – 23 H / 634 – 644 M), dibawah pimpinan militer ‘Amru bin al-As. Sebelum kedatangan Islam, mesir telah dikuasai oleh Byzantium. Panglima perang saat itu yang dipegang oleh ‘Amru bin al-As telah lama berniat melakukan penaklukkan Mesir, namun karena beberapa pertimbangan niatan itu belum terlaksanakan. Jamal ‘Abd al-Hadi mengemukakan beberapa alasan yang “mendesak” umat Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab untuk melakukan ekspansi ke Mesir, diantaranya adalah semangat penyebaran Islam dan penegakkan Islam sebagai aturan hidup di bumi Tuhan, motivasi Nabi Saw. untuk menaklukkan Mesir, serta adanya musyawarah yang dilakukan khalifah bersama para tentaranya (mu’tamar ‘askari) dalam rangka memperluas wilayah ekspansi Islam. Setelah mendapatkan persetujuan dari Amir Al-Mukminin, ‘Amru bin al-As melakukan ekspedisi ke Mesir dengan bantuan 4000 tentara. Pada ekspedisi ini, banyak kota yang berhasil ditaklukkan, salah satunya adalah kota Babylon yang ditundukkan pada tahun 20 H.
Perkembangan Islam di Mesir terbagi menjadi beberapa era / periode:

1. Era Pra-Modern

Pada fase ini bermacam-macam empire Islam pernah berkuasa seperti Abbasiyah, Thuluniyah, Ikhsyidiyah, Fatimiyah, Ayyubiyah dan yang terakhir adalah Usmaniyah.
Salah satu empire yang pernah berkuasa di Mesir adalah Fatimiyah yang didirikan oleh ‘Abd al-Lāh al-Mahdi bi al-Lāh. Pada masa empire Fatimiyah inilah kota Kairo didirikan pada tanggal 17 Sya’ban 358 H/969 M oleh panglima perang, Jawhar al-Siqli. Jawhar juga kemudian mendirikan masjid al-Azhar pada tanggal 17 Ramadhan 359 H (970 M). Sebuah masjid yang pada akhir berubah fungsi menjadi Universitas al-Azhar. Kota Mesir di masa empire Fatimiyyah telah mulai memperlihatkan kemajuannya pada masa al-Mu’īz dan puncaknya berada pada masa pemerintahan anaknya, al-‘Azīz. Al-Mu’īz melakukan tiga kebijakan besar saat itu, yaitu melakukan pembaharuan dalam bidang administrasi, pertumbuhan ekonomi dan toleransi beragama dan mazhab.

2. Era Modern
Era ini ditandai dengan ekspedisi yang dilakukan oleh pasukan Perancis di bawah komando Napoleon Bonaparte terhadap Mesir, dengan tujuan ingin menumpas sisa-sisa empire Mamluk yang masih ada di Mesir. Upaya Napoleon untuk dapat menguasai Mesir bukan hanya dilakukan dengan persiapan strategi peperangan saja, tetapi dengan mengirimkan alat-alat teknologi, yang pada akhirnya memberi kesadaranan bagi umat Islam (baca: orang Turki) untuk mengenali kelemahan mereka setelah dikuasai Perancis. Salah seorang Turki yang dimaksud adalah Muhammad Ali Pasya.

3. Era Pasca-Modern (Kontemporer)
Perkembangan Islam di Mesir khususnya dalam bidang pemikiran keagamaan di era kontemporer, juga menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri. Karena pada era ini bermunculan pemikir-pemikir keagamaan yang juga berasal dari al-Azhar, tetapi dalam situasi dan kondisi yang tentunya sangat jauh berbeda dengan masyarakat Mesir di Era Modern sebelumnya. Walaupun demikian di sini hanya ada dua pemikir – menurut penulis sangat refresentatif – untuk mewakili corak pemikiran Islam modern di era ini.
Salah satu tokoh yang pernah “mengukir” perdebatan pemikiran kewahyuan di Mesir (sekitar tahun 1986) adalah Muhammad al-Ghazāli yang merupakan alumni universitas al-Azhar dari Fakultas Ushluddin pada bagian Dakwah. Muhammad al-Ghazāli adalah seorang tenaga pengajar di berbagai perguruan tinggi, seperti di Qatar dan Pakistan. Dia juga aktif menulis beberapa buku, salah satu buku yang mengandung kontroversi adalah al-Sunnah al-Nabawiyah: Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadīs. Buku ini berisikan beberapa kritikannya terhadap hadis Nabi Saw. Salah satu pemikirannya di bidang hadis adalah menolak hadis yang dinilainya bertentangan dengan ayat-ayat Alquran. Pendapatnya ini menimbulkan persepsi sebagian orang bahwa Muhammad al-Ghazali mengingkari hadis. Contoh yang dikemukakannya dalam buku tersebut adalah peristiwa ‘Aisyah ra. (isteri Nabi saw.) yang menolak hadis yang disampaikan Abū Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda sesungguhnya orang mati


Sumber: https://ngegas.com/

Similar Posts