Adab Wanita dalam Masjid Untuk Sholat Berjama’ah

Adab Wanita dalam Masjid Untuk Sholat Berjama'ah 

Adab Wanita dalam Masjid Untuk Sholat Berjama’ah

Adab Wanita dalam Masjid Untuk Sholat Berjama'ah 
Adab Wanita dalam Masjid Untuk Sholat Berjama’ah

Pada saat di dalam masjid

Saat di dalam masjid, jika wanita itu sendirian, maka hendaknya berbaris sendiri di belakang shaf lelaki, berdasarkan hadits Anas saat shalat bermakmum kepada Rasulullah Saw., Anas berkata: “Aku dan anak lelaki kecil (yatim) berdiri di belakang beliau. Sedang wanita tua (ibuku) berdiri di belakang kami”. Selain itu dari hadits Anas, ia berkata: “Aku dan anak lelaki kecil (yatim) shalat di rumah kami bermakmum kepada Rasulullah Saw., Sedang-kan Ibuku Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” Jika jama’ah wanita itu banyak, lebih dari satu, maka hendaknya mereka berbaris satu shaf, atau beberapa shaf di belakang shaf jama’ah lelaki. Hal ini berdasarkan hadits:
“Bahwasanya Rasulullah Saw., menata shaf lelaki dewasa di depan anak-anak lelaki, dan menata shaf anak-anak lelaki di belakang shaf lelaki dewasa. Sedangkan shaf wanita di belakang shaf anak- anak lelaki.”

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Shaf terbaik bagi lelaki adalah yang paling depan, sedang yang terburuk adalah yang paling belakang. Shaf terbaik wanita adalah yang paling belakang, sedang yang terburuk adalah yang paling depan”. Dua hadits di atas menunjukkan, bahwa hendak-nya wanita berbaris beberapa shaf di belakang shaf lelaki. Janganlah mereka shalat terpencar-pencar, jika mereka shalat di belakang shaf lelaki, baik itu dalam shalat fardhu maupun dalam shalat tarawih.

Dalam shalat jama’ah

Jika Imam lupa dalam shalatnya, maka wanita menegurnya dengan menepukkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kirinya , berdasarkan hadits:

Rasulullah bersabda: “Jika terjadi suatu hal (kelupaan) pada kamu dalam shalat, hendaklah makmum lelaki mengucap tasbih, dan hendaknya makmum wanita menepukkan tangan “.

Ini adalah izin pembolehan bagi wanita menepukkan telapak tangannya jika terjadi sesuatu hal dalam shalat, di antaranya lupanya imam. Hal itu karena suara halus wanita mengandung fitnah (gangguan di hati) bagi lelaki. Karenanya, ia diperintahkan menepukkan telapak tangannya tanpa berucap kata.

Jika Imam telah salam

Apabila imam telah salam maka hendaknya wanita berse¬gera keluar dari masjid, sedang jama’ah lelaki tetap duduk, agar wanita yang telah keluar itu tidak ter¬kejar oleh lelaki. Ini berdasarkan hadits Salamah:

“Sesungguhnya wanita (dahulu), jika usai salam dari shalat fardhu, mereka bangkit, sedang Rasulullah Saw., dan jama’ah lelaki menetap beberapa saat, kemudian jika Rasulullah Saw., bangkit, jama’ah lelaki pun bangkit”

Az-Zuhri berkata: “Kami berpendapat, wallahu A’lam, bahwa hal itu agar wanita yang telah usai dari shalatnya dapat terus berjalan sampai ke rumahnya”. (Shahih al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan, bahwasanya disunnahkan bagi Imam memberi perhatian penuh kepada para makmumnya dan berhati-hati untuk menghindari hal-hal yang boleh jadi menggiring kepada sesuatu yang dilarang Agama dan menghindari hal-hal yang dapat mengundang prasangka buruk.

Wanita berbeda dengan lelaki pada shalat jama’ah dalam beberapa hal:
Shalat 1 jama’ah tidak ditekankan bagi wanita seperti ditekan-1 kannya hal itu kepada lelaki.
Imam wanita ber-| diri di tengah dan masuk di dalam shaf wanita.
Satu orang makmum wanita berdiri di belakang Imam I lelaki, bukan di sebelahnya.
Jika wanita berbaris beberapa shaf dalam shalat berjama’ah ber-1 sama jama’ah lelaki, maka shaf wanita yang palingi belakang adalah lebih utama ketimbang shaf wanitai yang terdepan.

Disyari’atkannya wanita keluar untuk shalat id

Dari Ummu ‘Athiyyah ia berkata : “Rasulullah Saw., memerintah kami untuk membawa keluar wanita untuk shalat ‘Idul Fitri dan shalat ‘Idul Adha, yaitu gadis-gadis yang sudah atau hampir baligh, wanita-wanita yang sedang haid dan gadis-gadis yang dalam pingitan. Adapun wanita-wanita yang sedang haid, mereka mengambil tempat terpisah dari area shalat dan turut menghadiri keutamaan shalat dan seruan do’a ummat Islam.”

Hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna memastikan disyari’atkannya wanita keluar untuk shalat id, tanpa membedakan antara perawan, janda, gadis, wanita tua, wanita haid dan lainnya, selagi ia tidak dalam masa ‘iddah, atau sekiranya keluarnya menimbulkan fitnah (gangguan ke arah maksiat), atau ia mempunyai udzur.

Baca Juga: