Agama

Bacaan Makmum (Fatihah) dalam Shalat Berjamaah

Bacaan Makmum (Fatihah) dalam Shalat Berjamaah

Bacaan Makmum (Fatihah) dalam Shalat Berjamaah

Para ulama telah ijma’ (bersepakat) bahwa imam tidaklah menanggung bacaan makmum dalam shalat fardhu, kecuali bacaan Fatihah. Adapun mengenai bacaan Fatihah, dalam hal ini ulama berbeda pendapat.
Para ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kewajiban membaca Fatihah adalah gugur bagi makmum, baik shalat yang bacaannya Sir maupun Jahar, apabila seorang makmum membacanya juga, hukumnya adalah makruh tahrim.
Asy-Syarhasi berkata, “Apabila makmum membacanya, rusaklah shalatnya menurut pendapat sahabat, di antaranya yaitu Zaid bin Tsabit dan Sa’ad bin Abi Waqash”.

Diriwayatkan di dalam kitab Syarah Al-Hidayah bahwa Muhammad berpendapat bahwa makmum lebih baik membaca Fatihah untuk ihtiyat (hati-hati). Akan tetapi, menurut pengarang kitab Al-Fathi, “yang benar adalah pendapat Muhammad sama seperti pendapat dua sahabat Nabi SAW di atas. Dan telah dinukilkan dari kitab-kitab susunan Muhammad mengenai ketegasannya bahwa ia melarang makmum membaca Fatihah”.

Kemudian pengarang Al-Fathi berkata, “tidaklah samar bahwa ihttidaklah samar bahwa ihtiyat adalah tidak membaca di belakang imam. karena ihtiyat ialah beramal dengan cara mengamalkan dalil yang lebih kuat di antara dua dalil, sedangkan yang lebih kuat adalah yang tidak membaca, bukan yang membaca”.

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa makmum diwajibkan membaca fatihah, baik shalat jahar mauun shalat sir. Sementara itu, ulama Malikiyyah dan ulama Hanabillah berpendapat bahwa membaca Fatihah itu tidak wajib atas makmum mutlak. Hanya saja ulama Malikiyyah yang mengatakan bahwa makmum disunnahkan membacanya –pada shalat sirriyah walaupun imam membacanya secara keras, dan makruh membacanya pada shalat jahriyah, walaupun ia tidak dapat mendengar bacaan imam. Demikian ulama Hanabillah mengatakan bahwa makmum disunahkan membacanya tatkala imam diam dan pada saat-saat tidak dapat mendengar bacaan imam, baik karena sebab bacaannya sir atau pun karena jauhnya.

Jadi berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan yaitu,

a. Ulama Hanafiyyah

melarang makmum membaca Fatihah secara mutlaq

Ulama Hanafiyyah berhujjah pada Nash Al-Qur’an, dan Al-Hadist.
Adapun nash Al-Qur’an yaitu firman Allah SWT QS. Al-A’raf: 204;

وَاِذَا قُرِىءَالْقُرْانُ فَا سْتَمِعُوْا لَهُ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكَمْ تُرْحَمُوْنَ.

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikan dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”

Adapun Al-Hadis yang menjadi hujjah yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dari Abdullah bin Syaddaad dari jabir bin Abdullah r.a, bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى خَلْفَ اِمَا مٍ فَاِنّ قِرَا ءَةَاْلاِمَا م لَهُ قِرَاءَةٌ
“ Barangsiapa yang mengerjakan shalat di belakang imam, maka sesungguhnya bacaan imam adalah menjadi bacaannya ”

b. Ulama Syafi’iyyah

mewajibkan secara mutlaq

Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa membaca Fatihah itu merupakan salah satu rukun shalat, maka ia tidak dapat gugur dari makmum sebagaimana rukun-rukun lainnya.
Mengenai pendapatnya, Ulama Syafi’iyyah berpegang dengan hadis Abu Hurairah r.a, yaitu:

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
“Barangsiapa yang shalat, yang di dalamnya tanpa membaca ummul kitab (Fatihah), maka shalat itu kurang, tegasnya tidak sempurna”

c. Ulama Malikiyyah

tidak mewajibkan dan juga tidak melarang dalam membaca Fatihah, tetapi hanya pada saat sir disunnatkan membacanya.

d. Ulama hanabillah

tidak mewajibkan dan tidak melarang pada saat tidak terdengar bacaan imam, maka sunat membacanya bagi makmum.

Adapun untuk Ulama Malikiyyah dan ulama Hanabillah mengambil dalil mengenai tidak wajibnya makmum membaca Fatihah, yaitu dengan dalil-dalil sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama Hanafiyyah. Mereka mengatakan dalil-dalil itu telah menunjukkan ketidakwajibannya, bukan larangan yang menunjukkan keharaman.

Mereka mengambil hujjah dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Darda r.a, ia berkata, “ Baginda Nabi SAW pernah ditanya, apakah pada masing-masing shalat itu terdapat bacaan? Beliau menjawab, “Ya”. Maka berkatalah salah seorang laki-laki dari golongan anshar, sudah wajib? Maka Baginda rasulullah bersabda kepadaku, sedang aku adalah orang yang paling dekat kepada beliau:

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لاَيَقْرَأُفِيْهَا بِأُمِّ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ اِلاَّاَنْ يَكُوْنَ وَرَاءَاْلاِمَامِ

“Barangsiapa shalat yang di dalamnya tanpa membaca ummul kitab (Fatihah), maka shalat itu kurang, kecuali ia yang berada di belakang imam.

Baca Juga:

Similar Posts