Uncategorized

Banjir dan Pesan Alam

Banjir dan Pesan Alam

Kamis, 4 Maret 2010 | oleh Abun Sanda

Dari banyak provinsi yang memiliki pemandangan alam sangat indah, dua di antaranya adalah Jawa Barat dan Sumatera Barat. Kemasyhuran alam kedua provinsi itulah yang selalu mengundang kekaguman wisatawan dalam dan luar negeri. Kolumnis MAW Brouwer pernah menulis dengan jenaka, Tuhan menciptakan Jawa Barat tatkala tengah tersenyum.

Akan tetapi situasi sekarang memang sudah jauh berubah. Kedua provinsi itu, untuk sebagian memang masih sangat elok dan subur, tetapi di bagian lain, sudah gundul. Hutan ditebang oleh manusia yang sesuka hati berekspansi. Daerah resapan air dibanguni perumahan. Kawasan yang menjadi paru-paru provinsi, dimusnahkan dan diganti dengan ruko, perumahan dan sebagainya. Adapun kawasan pertanian dikonversi menjadi jalan tol, gedung pemerintah, pabrik dan sebagainya.

Yang pertama-tama terasa adalah kesejukan udara sangat berkurang. Suhu naik beberapa derajat. Pada sekitar 30 tahun silam, Bandung, Malang, Bogor dan Bukittinggi, sekadar menyebut contoh, masih sangat sejuk, kini panas. Warga yang dulu keluar sore dan malam dengan jaket, kini cukup dengan kaos oblong. Warga yang dulu tidur berselimut karena udara dingin, kini harus menggunakan AC karena kepanasan. Inilah beberapa isyarat dari perubahan perilaku alam akibat ulah manusia yang serakah.

Alam tentu tidak bisa disalahkan ketika banjir demikian kerap menghajar sentra permukiman penduduk, bahkan di daerah yang letaknya ratusan meter di atas permukaan laut. Alam pun tidak bisa disudutkan kalau kerap terjadi longsor sebagai akibat pemerkosaan atas kawasan hijau. Terakhir Jawa Barat dan Sumatera Barat yang paling menderita oleh longsor ini.

Manusialah yang bersalah, manusia terlampau loba sehingga kawasan penyimpan air dan penahan longsor diusik-usik. Bayangkan, setahun 1,2 juta hektar hutan (setara hampir dua kali luas pulau Bali) digunduli manusia. Bagaimana alam ini tidak mengamuk?

Di Jakarta demikian halnya. Ada 13 sungai yang mengaliri kota, tetapi lihatlah manusia sendiri yang membuat sungai itu menjadi dangkal dan sempit. Daya tampung sungai terhadap limpahan air hujan turun hingga 80 persen.

Menurut pengamat perkotaan Nirwono Joga, pada tahun 1970 masih terdapat 202 situ (dengan luas 2337,1 hektar) di Jabodetabek. Tahun 2009, jumlah ini kemudian berkurang menjadi kurang dari 180 situ (1.462,78 hektar atau susut 37,41 persen). Di Jakarta, tambahnya, tahun 1970 masih terdapat 50 situ. Tetapi pada tahun 2009 hanya tersisa 16 situ. Ke mana 34 situ itu raib? “Sebagai informasi, kondisi situ di Jakarta kini 50 persen dalam keadaan kritis. Sebanyak 30 persen terancam dan 20 persen masih utuh,” ujar Nirwono.

Ia menambahkan, menurut data KLH tahun 2007, situ di Jabodetabek 68 persen yang rusak , 20 persen baik dan 4,5 persen menjadi daratan. Satu persen lagi situ itu “hilang”. Penyebab sedimentasi, tambah Nirwono, 42 persen. Akibat konversi bangunan 34,9 persen dan yang menjadi tempat sampah 2,4 persen, gulma lima persen dan faktor lain 15,7 persen.

Fakta ini memang sangat mengerikan, tetapi begitulah kenyataannya. Kita tidak bisa lagi hanya berteriak-teriak tentang kerusakan alam. Kita mesti melakukan sesuatu yang konkret, yang tidak saja berhenti merusak alam, tetapi lebih dari itu memerbaiki alam yang dirusak manusia.

Tulisan ini sengaja diketengahkan untuk menggugah publik berhenti menebang pohon, menyetop menimbun situ dan sungai. Publik harus menyudahi aksi pembabatan daerah resapan air. Pemerintah kita lebih suka terjebak pada pernyataan “sudah menanam sejuta” pohon. Tetapi apakah sejuta pohon itu benar-benar ditanami hingga berjumlah sejuta atau setelah ditanami ada yang merawat. Publik tidak pernah diberi informasi tentang hal tersebut. Begitu pula halnya dengan aksi penebangan pohon yang terus berlangsung tanpa ada yang bisa mencegah.

Para pengembang pun seyogyanya lebih selektif membangun. Hindarilah membangun di daerah ruang terbuka hijau, atau di kawasan pusat resapan air. Abaikan ajakan mitra Anda untuk membangun di kawasan tanaman bakau. Sebab kalau terjadi banjir besar dan banyak manusia meninggal, siapa yang bisa dimintai tanggung jawabnya?

Pengembang justru mesti berperan lebih besar untuk membuat kota lebih hijau, teduh dan berudara sejuk. Memang tidak ada aturan tertulis untuk aspek ini, tetapi setidaknya pengembang menunjukkan tanggung jawab moral dengan merawat alam seoptimal mungkin. Kalau alam makin hancur, masyarakatlah yang sengsara, termasuk pengembang.

Similar Posts