Diaspora Indonesia Tampilkan Drama Musikal Kebangsaan di Amerika

Diaspora Indonesia Tampilkan Drama Musikal Kebangsaan di Amerika

Diaspora Indonesia Tampilkan Drama Musikal Kebangsaan di Amerika

Diaspora Indonesia Tampilkan Drama Musikal Kebangsaan di Amerika
Diaspora Indonesia Tampilkan Drama Musikal Kebangsaan di Amerika

Jakarta, Kemendikbud — Sekitar 500 orang memadati Gedung Kesenian Montgomery College

Cultural Arts Center, Amerika Serikat, untuk menyaksikan pertunjukan dari Indonesian Kids Performing Arts (IKPA). Pada akhir pertunjukan, semua penonton berdiri memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi atas drama musikal dari anak-anak bangsa itu.

Malam itu, Kamis (11/1/2018), Indonesian Kids Performing Arts (IKPA) memberikan suguhan kesenian yang menarik, berupa drama musikal, dalam rangka memperingati ulang tahun ke-8 berdirinya IKPA. IKPA adalah suatu organisasi nirlaba yang anggotanya adalah anak-anak diplomat RI dan anak-anak diaspora Amerika Serikat yang mempunyai misi untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui musik dan tari, tujuannya untuk melestarikan sejarah dan budaya Indonesia di Washington, DC area.

Di pertunjukan malam itu, IKPA menampilkan tema “a Journey back to 1928, When a Nation in Harmony

, dengan mengangkat tema persatuan Indonesia. Pada tahun 1928, nasionalis muda Indonesia bertekad untuk mewujudkan persatuan Indonesia, yang dinyatakan sebagai Sumpah Pemuda dengan tiga ide persatuan, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Mereka percaya bahwa semangat ini akan berkekuatan untuk melawan penjajahan.

Tema ini dikemas sebagai drama musikal yang selama 2,5 jam pertunjukan, yang terdiri dari tiga segmen pertunjukan. Pertama, tentang kedatangan VoC, yakni perusahaan dagang Hindia Barat. Drama musikal menampilkan Rain Music, VoC song, Drum battle, Jayakarta 1619, VoC Act, Wayang (shadow puppet), Poem-Batavia Song, Angin Mamiri, Goro-gorone, Dung Nene, dan Tari Likok Pulo.

Pertunjukan kedua menampilkan wilayah Indonesia di awal abad 20. Dalam pertunjukan ini

ditampilkan kemuliaan kerajaan Jayakarta; dan latar belakang awal abad 17, yakni situasi ketika berbagai suku tersebar di seluruh Indonesia. Hal itu ditampilkan melalui Longing Song, Tarian Saman Gayo (Aceh), Dialog Tiga Serangkai (Dr. Dowwes Dekker, Dr. Tjipto Mangoen Koesoemo dan Ki Hajar Dewantoro), Partai Hindia, Lagu Sabilulungan (Jawa Barat), dan suasana Sekolah Hindia Belanda (Indische School) yang dibawakan oleh Permias DC dan anak-anak IKPA.

Kemudian pertunjukan ketiga menggambarkan nasionalisme. Drama musikal menyajikan gambaran tentang gerakan nasionalisme Indonesia, sejarah Kebangkitan Nasional – Satu Nusa Satu Bangsa dan Bangun Pemudi Pemuda, Kongres Pemuda Kedua, dan Sumpah Pemuda.

Ketiga segmen pertunjukan tersebut dibawakan dalam seni gerak dan lagu yang semuanya diaransemen oleh komposer musik, Ulung Tanoto.

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, H.E. Budi Bowoleksono, menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan terus mendukung prakarsa positif dari seluruh elemen masyarakat Indonesia di Amerika Serikat, termasuk IKPA, untuk mempromosikan budaya Indonesia yang luhur.

“Kegiatan seperti ini memberikan dukungan yang efektif untuk program-program pemerintah dalam rangka mempromosikan budaya Indonesia. Pada saat yang bersamaan, juga menarik generasi masa depan Indonesia untuk terus mengingat dan memupuk cinta mereka untuk Tanah Air, meskipun berada jauh dari Tanah Air,” katanya dalam sambutan tertulis. (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

http://ejournal.upi.edu/index.php/WapFi/comment/view/15816/0/115984