Ishak Surya Adipermata

Ishak Surya Adipermata

Ishak Surya Adipermata

Ishak Surya Adipermata
Ishak Surya Adipermata
Hari itu hari terakhir ujian. Seluruh kampus berteriak “BEBAS!!!” dan siap menyambut datangnya liburan semester yang panjang. Kezia keluar dari ruang ujian dan menghela nafas lega. Dari kejauhan terlihat Dave sudah menunggu pujaan hatinya. “Gimana ujiannya?” Tanya Dave sambil tersenyum.”Lumayan deh, ngga susah-susah amat kaya kemaren.” jawabnya dengan senyum manisnya. Dave menangguk-angguk. “Hhh.. Akhirnya selesai juga ujiannya.” Dave menghirup nafas panjang sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Yap.. dan selamat datang liburan!!!” teriak Kezia di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang merayakan kebebasannya. Mereka tertawa. “O, iya, mo ke mana liburan?” Tanya Kezia lagi sambil berjalan. “Rencananya sih Alvin gituan pada mo ke Puncak, nginep di villanya Alvin.””Oh, asik dong.. mo pergi kapan?” Kezia tampak senang. “Kalo jadi sih besok agak siangan. Ikut yu..” ajaknya. “Ng.. kayanya ngga bisa deh. Kemaren kan Kei ke dokter. Katanya Kei Ngga boleh terlalu cape n ga boleh kena udara dingin..” Kei langsung murung. “Yah…sayang ya.. Padahal kan, gua pengen banget liburan ma loe.. O, ya, kenapa tiba-tiba ke dokter? Kamu sakit apa emang?” “Kondisi badan Kei kan emang ga terlalu kuat, bentar-bentar pingsan..kemaren Kei pingsan lagi. Kayanya kemaren kecapean belajar deh..” Dave tertawa, “Makanya jadi orang jangan terlalu rajin..” sambil mengacak-acak rambut cewenya. “Jahaaaaat!!!!!” Kei lari di sepanjang koridor mengejar Dave yang lari.Tiba-tiba Kei merasakan nafasnya yang tersengal-sengal. Ia pun kehilangan keseimbangan tubuh dan kesadarannya, lalu jatuh tersungkur. Segera Dave berbalik, dan berlari mendapatkan Kei. “Kei!!” teriaknya kaget.Dave langsung membawa Kei ke rumah sakit dan segera menelepon orang tua Kei.
Dengan rasa penyesalan, Dave terduduk lemas di kursi rumah sakit. “Bagaimana keadaan Kei?” mamanya Kei datang terpogoh-pogoh dan dengan cemasnya ia menatap mata Dave. Dave jadi merasa bersalah.”Kei masih belum sadar, tante. Dia lagi diperiksa dokter di dalem.” Jawabnya sedih. Perempuan setengah baya itu duduk di sebelah Dave dengan pandangan yang memelas. “Maaf, tante,” kata Dave takut-takut, “Kei pingsan gara-gara saya.” Ia menggeleng, “Bukan, Dave. Tubuhnya memang lemah. Dia memang sering pingsan.” katanya sambil menunduk. Ia membuang nafas pelan-pelan dengan berat. “Ia punya penyakit lemah jantung turunan ayahnya..” ia memulai ceritanya. Dave kaget. “Tapi Kei belum tau sama sekali tentang ini. Saya selalu takut untuk menceritakan tentang ini sama Kei. Takut kesehatannya malah menurun, takut dia tidak optimis lagi menghadapi hidup, takut dia menganggap dirinya sudah tak lagi ada artinya..” Perempuan itu diam sejenak. Air matanya menetes. “Saya tidak tahu, bagaimana cara menyampaikannya..” Dia sudah benar-benar terisak, dan tak lagi melanjutkan kalimatnya.
Dave menatap perempuan di sebelahnya. Seorang ibu yang selama ini memperjuangkan hidup anak satu-satunya sendirian, tanpa ayahnya. Pasti sangat berat, pikirnya.Waktu tidak berhenti berjalan, tiba harinya Dave pergi berlibur bersama teman-temannya, dan Kei masih tetap di rumah sakit untuk menjalankan perawatan intensif rumah sakit. Sebelum berangkat, Dave pamit pada Kei, dan Kei yang lemah tetap mencoba untuk tersenyum baginya. “Have fun ya.. Pake waktu bener-bener buat temen-temenmu di sana.” Waktu liburan hampir habis, namun Kei menghabiskan waktu liburan panjangnya di rumah sakit. Dave menjenguknya lagi. “Gimana liburannya?” Tanya Kei dengan ceria. “Excited!! Rame lho.. sayang kamu ga bisa ikut..” Dave pun berusaha seriang mungkin. “O, ya? Ngapain aja di sana?” “Banyak. Bakar jagung, ngobrol sampe malem, hiking, berenang.. rame deh pokoknya! Lain kali kita ke sana ya!” Kei mengangguk tersenyum. Rasa rindu Kei belum hilang ketika Dave harus permisi pamit pulang. Setelah Dave meninggalkan kamarnya, Dokter Edi masuk untuk memeriksa keadaan Kei. Siapa tadi?” tanyanya ramah.”Oh, itu pacar saya, Dok.” jawab Kei tersipu malu. Dokter Edi tersenyum, “Dia sepertinya sangat menyayangimu, ya?” Kei tersenyum.”Sekarang jarang lho, ada orang yang mau menjenguk pacarnya setiap malam sampai tertidur.” Kei tentu saja bingung, “Maksud dokter?” “Kamu tidak tahu dia ke sini setiap malam? Dia tidur di sofa dan ketika saya masuk jam enam pagi, dia bangun dan pulang.”Kei tambah kaget. Namun hal itu disembunyikannya dari Dokter Edi.
Keesokan harinya ketika Dave kembali menjenguknya, Kei menanyakan kebenaran ini. “Dave, katakan, apa kamu pergi liburan ke Puncak?” Tanya Kei serius.Dave tertawa, “Iya dong, Kei. Masa aku cerita bohong?” “Tapi memang begitu kan kenyataannya? Dokter Edi bilang kamu ke sini tiap malam, tidur di sofa, dan baru pulang besok paginya. Bener itu, Dave?” Dave tertawa lagi, menunduk, “Yah.. ketauan..” “Kenapa, Dave? Aku kan bilang ga usah pikirin aku. Aku baik-baik aja di sini. Kenapa kamu ngga pergi sama temen-temen kamu?” Tanya Kei heran. Dave tersenyum dan menatap mata Kei, “Kei, do you know, my best times are my times which I spent with you..” Kei tersenyum senang, “Thanks, Dave…”