Agama

Jama’ Taqdim dan Jama’ Ta’khir

Jama’ Taqdim dan Jama’ Ta’khir

Jama’ Taqdim dan Jama’ Ta’khir

1) Madzhab Hanafi

Menurut ulama Hanafillah, tidak membolehkan jama’ antara dua macam shalat dalam satu waktu, baik dalam keadaan bepergian (safar) maupun di rumah dengan udzur apapun juga. Mereka hanya membedakan jama’ dalam dua macam kondisi, yaitu:
a. Diperbolehkannya menjama’ shalat dzuhur dan ashar pada waktu dzuhur (jama’ taqdim) dengan empat syarat:
a) Dilakukan pada saat wukuf di Arafah.
b) Yang melakukan jama’ shalat tersebut sedang mengerjakan ihram haji.
c) Mengerjakannya di belakang imam kaum muslimin atau wakilnya.
d) Shalat dzuhur yang dilakukannya itu sah. Maka jika shalat dzuhur jelas batalnya, wajib i’adah (diulang). Dalam keadaan ini, seseorang tidak boleh menjama’ dengan shalat ashar, tetapi ia wajib mengerjakan shalat itu bila waktunya telah tiba.
b. Dibolehkan menjama’ shalat magrib dan isya’ pada waktu isya’ (jama takhir) dengan syarat:
a) Dikerjakan di Muzdalifah.
b) Hendaknya orang yang mengerjakan shalat jama’ sedang ber-ihram haji.

2) Madzhab Maliki

Menurut Madzhab Maliki, sebab-sebab menjama’ shalat sebagai berikut:
a. Bepergian secara mutlaq, baik safar yang diperbolehkan qashar ataupun tidak. Orang itu dibolehkan menjama’ shalat dzuhur dan ashar dengan cara jama’ taqdim dengan dua syarat, yaitu:
a) Matahari telah tergelincir ketika ia tiba di tempat yang akan dijadikan peristirahatan.
b) Ia melakukan perjalanan sebelum waktu ashar tiba dan berhenti untuk istirahat setelah terbenam matahari.

b. Sakit
Barang siapa yang sakit sehingga ia tidak mampu mengerjakan setiap shalat atau wudu, maka ia boleh menjama’ antara shalat dzuhur dengan ashar dan antara magrib dan isya’.

c. Hujan dan tanah becek serta gelap
Apabila turun hujan yang deras yang menghendaki manusia untuk menutup kepala mereka ataupun melepaskan sepatunya, sedang keadaan saat itu sangat gelap gulita, maka bolehlah menjama’ shalat isya’ dengan magrib secara jama’ taqdim, demi memelihara shalat isya’ dalam keadaan berjamaah tanpa adanya kesulitan.
d. Berada di Arafah, baik ia berkedudukan sebagai penduduknya maupun bukan.
e. Berada di Muzdalifah
Disunahkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji setelah bertolak dari Arafah untuk mengakhiri shalat magrib sehingga ia tiba di Muzdalifah. Ia mengerjakannya bersama shalat isya’ dengan cara jama’ takhir. Jama’ tersebut disunahkan bagi orang yang wukuf bersama imam di Arafah.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/nama-bayi-perempuan-islami/

3) Madzhab Asy-Syafi’i

Diperbolehkannya menjama’ antara magrib dan isya’ secara jama’ taqdim maupun jama’ takhir bagi orang yang melakukan safar sejauh jarak yang dibolehkan mengqashar shalat.
Dalam melaksanakan jama’ takhir disyaratkan bermacam-macam syarat, yaitu:
a. Tartib, mendahulukan shalat yang berada pada waktunya. Misalnya, ia berada pada waktu dzuhur, dan ia berkehendak melakukan jama’ taqdim dengan shalat ashar, maka wajib ia memulainya dengan shalat dzuhur bukan sebaliknya.
b. Niat menjama’ dengan shalat yang pertama.
c. Berturut-turut antara dua macam shalat, yaitu sekiranya tidak dipisah antara keduannya dengan suatu perbuatan yang cukup untuk menunaikan shalat dua rekaat yang ringan.
d. Masih tetap berlangsungnya safar sampai ia memulai dalam shalat kedua dengan takbirotul ihram.
e. Waktu shalat yang pertama masih memungkinkan terselenggaranya shalat yang kedua.
Sedangkan untuk jama’ takhir terdapat dua macam syarat, yaitu:
a. Niat mengakhirkan pada waktu shalat yang pertama selama waktunya masih mencukupi untuk shalat secara sempurna atau di-qashar.
b. Safar masih berlangsung sampai dua shalat selesai dengan sempurna. Apabila musafir menjadi muqimin (orang yang bermukim) sebelum itu, maka shalat yang diniatkan untuk diakhitkan menjadi shalat qadha.
Sedangkan hukum tartib dan berturut-turut antara dua shalat dalam jama’ ta’khir adalah hukumnya sunnah.

4) Madzhab Hambali

Diperbolehkan mengerjakan shalat jama’ antara shalat dzuhur dan ashar maupun shalat magrib dan isya’, baik secara jama’ taqdim ataupun jama’ ta’khir. Akan tetapi, meninggalkan menjama’ shalat adalah lebih utama.
Sunnah hukumnya menjama’ taqdim antara shalat dzuhur dan ashar di Arafah serta menjama’ ta’khir antara shalat magrib dan isya’ di Muzdalifah. Akan tetapi, kebolehan menjama’ ini adalah bagi orang musafir yang dibolehkan mengqashar shalat, atau orang yang sakit yang mengalami kesulitan jika meninggalkan jama’ atau wanita yang sedang menyusui.
Adapun yang lebih utama adalah memilih jama’ yang mana lebih meringankan antara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir.

Similar Posts