Konsep Dalam Tarekat dan Ma’rifat

Konsep Dalam Tarekat dan Ma'rifat

Konsep Dalam Tarekat dan Ma’rifat

Konsep Dalam Tarekat dan Ma'rifat
Konsep Dalam Tarekat dan Ma’rifat

Pengertian Tarekat

Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan sebagai berikut:

الطريقة هي العمل بالشريعة والاخد بعزائهما والبعد عن التساهل فيما لا ينبغى التساهل فيه

Artinya:

“Tariqat adalah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya tidak boleh dipermudah.”

الطريقة هى اجتناب المنهيات ظاهرا وباطنا وامتثال الاوامر الالهية بقدر الطاقة

Artinya;

Tariqat adalah menjauhi larangan dan mwnjauhi perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya, baik larangan dan perintah yang nyata maupun yang tidak (batin).”

الطريقة هىى اجتناب المحرمات والمكروهات وفضول المباحات واداء الفرائض فما استطاع من النوافل تحت رعاية عارف من اهل النهاية

Artinya:

“Tariqat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadilah, menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) dibawah bimbingan seorang arif (Syekh) dari (sufi) yang  mencita-citakan suatu tujuan.”

 

Tarekat (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah) berarti

“jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat, atau kebenaran hakiki).

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

 

Ada 2 macam tarekat yaitu tarekat wajib dan tarekat sunat.

  1. tarekat wajib, yaitu amalan-amalan wajib, baik fardhu ain dan fardhu kifayah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. tarekat wajib yang utama adalah mengamalkan rukun Islam. Amalan-amalan wajib ini insya Allah akan membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa yang dipelihara oleh Allah. Paket tarekat wajib ini sudah ditentukan oleh Allah s.w.t melalui Al-Quran dan Al-Hadis. Contoh amalan wajib yang utama adalah shalat, puasa, zakat, haji. Amalan wajib lain antara lain adalah menutup aurat , makan makanan halal dan lain sebagainya.
  2. tarekat sunat, yaitu kumpulan amalan-amalan sunat dan mubah yang diarahkan sesuai dengan 5 syarat ibadah untuk membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa. Tentu saja orang yang hendak mengamalkan tarekat sunnah hendaklah sudah mengamalkan tarekat wajib. Jadi tarekat sunnah ini adalah tambahan amalan-amalan di atas tarekat wajib. Paket tarekat sunat ini disusun oleh seorang guru mursyid untuk diamalkan oleh murid-murid dan pengikutnya. Isi dari paket tarekat sunat ini tidak tetap, tergantung keadaan zaman tarekat tersebut dan juga keadaan sang murid atau pengikut. Hal-hal yang dapat menjadi isi tarekat sunat ada ribuan jumlahnya, seperti shalat sunat, membaca Al Qur’an, puasa sunat, wirid, zikir dan lain sebagainya.

 

Metode –Metode Tarekat Untuk Bersatu Dengan Tuhan

Untuk mencapai hakikat (liqa’ Allah) bertemu dengan Tuhan kaum sufi mengadakan kegiatan batin, riyadhah/ latihan dan mujahadah atau perjuangan kerohanian. Perjuangan seperti itu, dinamakan suluk dan yang mengerjakannya disebut salik dan untuk Liqa’ Allah itulah menjadi perhatian ulama para sufi dan Juga Al-Ghazali membawa pengikut-pengikutnya kepada Liqa’ bertemu dengan Tuhan. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

 “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya

 

Metode-metode Tarekat antara Lain:

  1. Hulul (Tuhan menjelma ke dalam Insan) seperti ajaran Al-Hallaj. Katanya: keinsananku tenggelam ke dalam ketuhananmu, tetapi tidak mungkin percampuran, sebab ketuhananmu itu senantiasa menguasai keinsananku.
  2. Al-Isyraq (cahaya dari segala cahaya) seperti ajaran Abul Futuh Al-Suhrawardi. Beliau berkata, Tujuan segala-galanya satu juga, yaitu menuntut cahayanya kebenaran dari segala cahaya yaitu Allah.
  3. Ittihad (Tuhan dan hamba berpadu menjadi satu) seperti ajaran Abu yazid Al-Bustomi. Beliau berkata, Kami telah melihat engkau maka engkaulah itu dan aku tidak ada disana.
  4. Ittisal (hamba dapat menghubungkan diri dengan Tuhan) danmenentang faham/ajaran Hulul dari Al-Hallaj, menurut ajaran Al-Faraby.
  5. Wahdatul Wujud (yang ada hanya satu) seperti ajaran Ibnu Arabi, beliau berkata,Al-Abidu Wal Ma’budu Wahidun, yang menyembah dengan yang disembah itu satu.
  6. Itulah tadi metode-metode tarekat yang lazim dipakai oleh tokoh-tokoh sufi/tasawuf dalam menempuh jalan yang dapat membawa mereka untuk beroleh kenyataan Tuhan/Tajalli

 

Muhammad Hasyim Asy’ari 

Sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sholikhin, seorang peng-analisis tarekat dan sufi mengatakan bahwa ada delapan syarat dalam mempelajari tarekat:

  • Qashd shahih, menjalani tarekat dengan tujuan yang benar. Yaitu menjalaninya dengan sikap ubudiyyah, dan dengan niatan menghambakan diri kepada Tuhan.
  • Shidq sharis, haruslah memandang gurunya memiliki rahasia keistimewaan yang akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi.
  • Adab murdhiyyah, orang yang mengikuti tarekat haruslah menjalani tata-krama yang dibenarkan agama.
  • Ahwal zakiyyah, bertingkah laku yang bersih/sejalan dengan ucapan dan tingkah-laku Nabi Muhammad SAW.
  • Hifz al-hurmah, menjaga kehormatan, menghormati gurunya, baik ada maupun tidak ada, hidup maupun mati, menghormati sesama saudaranya pemeluk Islam, hormat terhadap yang lebih tua, sayang terhadap yang lebih muda, dan tabah atas permusuhan antar-saudara.
  • Husn al-khidmah, mereka-mereka yang mempelajari tarekat haruslah mempertinggi pelayanan kepada guru, sesama, dan Allah SWT dengan jalan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
  • Raf’ al-himmah, orang yang masuk tarekat haruslah membersihkan niat hatinya, yaitu mencari khashshah (pengetahuan khusus) dari Allah, bukan untuk tujuan duniawi.
  • Nufudz al-‘azimah, orang yang mempelajari tarekat haruslah menjaga tekat dan tujuan, demi meraih makrifat khashshah tentang Allah.

Baca Juga :