Agama

Landasan Qiyas sebagai Dalil Hukum

Landasan Qiyas sebagai Dalil Hukum

 

Landasan Qiyas sebagai Dalil Hukum

Kedudukan qiyas sebagai dalil penetapan hukum dipahami oleh jumhur ulama dari beberapa nashsh Al-Qur’an dan Sunnah serta atsar ash-shahabi.

a) Al-Qur’an

Sebagai contoh firman Allah dalam surah An-Nisa(4):59:
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Melalui ayat di atas Allah memerintahkan, jika terjadi perbedaan pendapat tentang suatu masalah di antara kaum muslimin, agar mencari penyelesaiannya dengan merujukkannya kepada Allah (Al-Qur’an) dan kepada Rasulullah (Sunnah), dengan metode qiyas.

b) Sunnah

Dalil pengguanaan qiyas yang berasal dari Sunnah, diriwayatkan oleh al-Bukhari[30] adalah sebagai berikut:

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa seorang wanita menghadap Rasulullah SAW dan bertanya tentang kewajiban puasa ibunya selama sebulan yang belum ditunaikan oleh ibunya itu: “Apakah saya dapat melaksanakannya atas namanya? Maka Rasulullah SAW balik bertanya: “Jika ibumu mempunyai utang, apakah Anda akan membayarnya?” Wanita itu menjawab: “Benar” Rasulullah SAW bersabda: “Utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi”.
Hadis diatas menggambarkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menjawab pertanyaan dengan cara meng-qiyas-kan antara utang kepada sesame manusia dan utang kepada Allah SWT. Karena itu qiyas merupakan salah satu institusi yang legal dalam menetapkan hukum Islam.

c) Dalil Atsar ash-Shahabi

Dalil qiyas yang berasal dari atsar ash-shahabi salah satunya adalah sebagai berikut:

Surat Umar R.A kepada Abu Musa R.A

Ketika Abu Musa asy-‘Asy’ari diangkat oleh Khalifah Kedua, Umar bin al-Khaththab, menjadi hakim di Yaman, Umar memberikan arahan kepadanya tentang langkah-langkah yang perlu diambil dalam memutuskan perkara-perkara yang diajukan kepadanya, terutama perkara-perkara yang tidak terdapat ketentuan nashsh yang mengaturnya secara jelas. Surat Umar yang isinya adalah:

Pahamilah sebaik-baiknya masalah-masalah yang membuat hatimu ragu dan gelisah kerena masalah tersebut tidak sampai informasinya kepadamu (tidak engkau temukan), baik di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Kenalilah sebaik-baiknya masalah-masalah yang serupa dan mirip dengan ketentuan yang telah ada, kemudian qiyas-kanlah (kepadanya) masalah yang engkau hadapi. Kemudian tetapkanlah hukum berdasarkan yang paling disukai Allah dan yang paling mirip dengannya di antara pendapatmu yang ada.

Surat Umar di atas menegasakan perintah kepada Abu Musa ketika ia tidak menemukan aturan nashsh dari suatu masalah hukum yang dihadapinya, untukmeng-qiyas-kan hukum masalah tersebut kepada hukum masalah serupa yang terdapat dalam nashsh Al-Qur’an ataupun Sunnah yang mengaturnya, karena adanya kesamaan ‘illah antara keduanya.

Baca Juga:

Similar Posts