Mendikbud: Kurikulum perlu tanamkan etika & budi pekerti

Mendikbud Kurikulum perlu tanamkan etika & budi pekerti

Mendikbud: Kurikulum perlu tanamkan etika & budi pekerti

Mendikbud Kurikulum perlu tanamkan etika & budi pekerti
Mendikbud Kurikulum perlu tanamkan etika & budi pekerti

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh menyatakan

, pemerintah akan mengubah kurikulum pendidikan agar merangsang para anak didik lebih sensitif terhadap etika dan berbudi pekerti yang tinggi.

“Membangun anak-anak Indonesia ke depan bukan hanya mengedepankan pengetahuan dan keterampilan, etika juga diperlukan. Budi pekerti, sikap toleransi, tahan banting dan memiliki jiwa juang yang tinggi itu dibutuhkan dalam dunia pendidikan kita,” kata Nuh saat berkunjung ke STKIP Muhammadiyah di Manokwari, Papua Barat, Selasa (9/4/2013) malam.

Nuh menambahkan, sistem pembelajaran harus ditata ulang agar anak didik memiliki etika dan budi pekerti yang kuat selain kebutuhan keterampilan.

Di kurikulum 2013, membangun kompetensi pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan etika kurikulum yang menjadi satu kesatuan utuh tidak boleh hanya mengajarkan saince. Karena yang ingin kita bangun bukan hanya pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga agama dan budi pekerti,” katanya.

Menurutnya, mata pelajaran IPA dan IPS perlu diubah, dimana

yang pendekatannya sistem lapis sekarang, akan diubah dan disatukan dengan biologi sebagai dasar, karena fenomena alam ini berangkatnya dari makluk hidup.

IPS diubah dari bentuk kue lapis menjadi plafon geografi. Demikian juga dengan pendidikan Pancasila akan dirombak kurikulumnya untuk membuat warga negara lebih cinta bangsa dan negara.

Nuh menilai, pendidikan agama tidak boleh ekslusif, melalinkan harus education for all. Tidak membedakan agama, ras, suku untuk umatnya sendiri melainkan untuk semua umat manusia.

Dia berpesan kepada STKIP sebagai pelopor ilmu pendidikan di Papua Barat

agar tahan banting dan meningkatkan daya imunitas melalui vaksinasi.

“Dalam kehidupan ada tiga penyakit dasar, yakni penyakit kemiskinan, ketidaktahuan dan keterbelakangan peradaban dan vaksinasinya adalah pendidikan,” tandasnya.

 

Baca Juga :