Perikanan

 Pecahnya Perang Uhud

 Pecahnya Perang Uhud

1.     Persiapan Perang Uhud

Pemimpin kaum Quraisy segera mempersiapkan banyak pasukannya untuk melawan Nabi Muhammad SAW dan pasukan kaum muslim kembali setelah kalah dalam perang Badar. Dalam perang kali ini pasukan Quraisy menyiapkan sejumlah 3000 tentara, diantaranya terdapat 200 pasukan berkuda dengan persenjataan lengkap dan pasukan berkendaraan unta serta memakai baju besi.
Pasukan perang kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan. Budak – budak Quraisy disuruh oleh majikannya masing – masing untuk ikut serta menjadi anggota pasukan perang yang dipimpin oleh Abu Amir ar-Rahib. Kaum wanita juga diikutsertakan untuk menyulut api peperangan, diantaranya adalah Hindun (istri Abu Sofyan). Ummu Hakim (Istri Ikhrimah), Barzah binti Munabbih (Istri Amr bin Asb), dengan Himdun sebagai pemimpinnya.
Dalam hal ini Hindun memiliki seorang budak bernama Wahsyi. Disini Washyi diperintahkan untuk membunuh Hamzah (paman Nabi Muhammad SAW). Dengan imbalan apabila dia berhasil akan diberi hak kemerdekaan. Mengapa Hindun menyuruh Washyi membunuh Hamzah, dikarenakan sebuah dendam karena Hamzah telah membunuh Utbah (ayah Hindun) pada saat perang Badar (Moenawar Chalil, 2011: 101).
Sementara itu kaum muslim di Madinah tidak sedikitpun mengetahui persiapan yang dilakukan oleh kaum Quraisy. Nabi Muhamad baru menerima berita tersebut tiga hari sebelum pasukan Quraisy Mekkah tiba di Uhud. Nabi mendengar berita tersebut dari pamannya yang memeluk islam namun masih tinggal di Mekkah pada saat itu. Setelah menerima berita tersebut, Nabi segera mengirim beberapa utusan mata – mata yaitu Anas, Munis, dan Hubab untuk mencari informasi tentang pasukan Quraisy Mekkah. Akhirnya diperoleh informasi bahwa pasukan Quraisy sudah berada didekat Uhud. Pada hari Jumat 13 Syawal 3 H, Nabi Muhammad SAW, Nabi mengadakan musyawarah untuk membahas situasi tersebut dengan para sahabat. Sejumlah sahabat sebaiknya tetap tinggal di Madinah.
Nabi Muhammad SAW setuju untuk bertahan di Madinah karena Madinah dikelilingi oleh gunung – gunung dan bukit yang dapat dijadikan sebagai benteng pertahanan sehingga kaum Quraisy akan mengalami kesulitan dalam melakukan penyerangan terhadap kota Madinah. Akan tetapi sejumlah pemuda tidak setuju dengan pendapat tersebut, mereka berpendapat untuk pergi keluar kota Madinah dan mengadakan perang terbuka dengan Quraisy. Adanya desakan dari kelompok pemuda tersebut membuat Nabi Muhammad SAW berubah pendirian dan mengikuti pendapat para pemuda untuk mengikuti perang terbuka dengan Quraisy. Setelah memperoleh keputusan Nabi Muhammad SAW segera mengenakan baju perang dengan senjata lengka.
Setelah selesai solat Jumat, NAbi Muhammad SAW bergerak menuju bukit Uhud dengan memimpin 1000 pasukan untuk menghadapi 3000 pasukan tentara Quraisy yang bersenjata lengkap dan yang telah merusak tanaman dan padang rumput kaum muslimin. Pasukan Nabi Muhammad SAW bermalam tidak jauh dari kota Madinah, agar esoknya dapat melanjutkan kembali perjalanan menuju bukit Uhud. Di tengah perjalanan menuju Uhud, pasukan munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay melakukan desersi (membelot) dengan membawa 300 pasukan, sehingga pasukan Nabi yangsemula berjumlah 1000 pasukan menjadi 700 pasukan saja. Hal itu membuat geram kaum muslimin yang menyaksikan pada waktu itu.
Menyikapi sikap orang –orang munafik tersebut kaum muslim terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa orang – orang munafik tersebut harus diperangi dan dibunuh karena merekamemang pantas untuk dibunuh. Sedangkan kelompok kedua yang mayoritas dipimpin oleh Nabi Muhammad memilih untuk tidak memerangi dan membunuh kaum munafik itu. Sikap Nabi tersebut merupakan sikap yang bijaksana, cerdas, dan visioner karena sangatlah tidak mungkin untuk memerangi kaum munafik tersebut ditengah kondisi yang kritis, selain itu hal itu juga tidak memberi keuntungan kaum muslim sendiri.
2.     Jalannya Perang Uhud
Setelah menghadapi persoalan penarikan diri AbdulllahbinUbay dan kaum munafik. Nabi Muhammad beserta pasukan muslimin melanjutkan perjalanan menuju Uhud. Nabi Muhammad SAW meminta ditunjukan suatu jalan yang tidak dilalui oleh kaum Quraisy. Khaistamah menunjukan jalan yang dekat dan yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah perjalanan dilanjutkan tibalah rombongan Nabi disebuah jalan kecil milik Marba’ bin Qaizhi yang buta matanya. Ketika Nabi Muhammad SAW berjalan didepan rumah Marba’ bin Qaizhi, tiba – tiba Marba’ bin Qaizhi menaburkan debu kearah muka Nabi sambil berkata, “Kalau engkau itu pesuruh Allah, aku tidak akan menghalalkan kau jalan di jalanku ini”.
Dengan cepat Sa’ad bin Zaid memukul Marba hingga terluka parah.sahabat – sahabat Nabi Muhammad SAW hendak membunuh Marba’ bin Qaizhi, tetapi Nabi Muhammad SAW mencegahnya (Moenawar Chalil, 2001: 110).
Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga sampailah kaum muslimin di suatu tempat di bawah kaki Gunung Uhud. di sinilah Nabi Muhammad beserta pasukannya berhenti karena melihat tentara musuh sudah beramai –ramai menduduki tempat – tempat dekat Gunung Uhud. Pasukan kaum Quraisy memiliki pasukan empat kali lipat dari pasukan muslim.
sumber :
baca juga ;

Similar Posts