Pendidikan

Penyajian Penjualan Angsuran Dalam Laporan Keuangan

Penyajian Penjualan Angsuran Dalam Laporan Keuangan

Penyajian informasi penjualan angsuran di dalam laporan keuangan (yang berupa Neraca dan perhitungan laba-rugi) tidak berbeda banyak seperti penyusunan laporan-laporan keuangan pada umumnya. Hanya disini, didalam neraca akan terdapat rekening “piutang penjualan angsuran” dan “laba kotor yang belum direalisasi” yang erat hubungannya dengan pelaksanaan penjualan angsuran tersebut.

Persoalan yang timbul ialah didalam kelompok atau grup rekening mana “piutang penjualan angsuran” dan “laba kotor yang belum direalisasi” itu diklasifikasikan dalam neraca.

Apabila piutang penjualan angsuran dicatat sebagai golongan aktiva lancer, maka posisinya sama dengan piutang biasa, sehingga dapat diinterpretasikan sebagai aktiva yang dapat dikonversikan menjadi uang kas dalam siklus operasi normal perusahaan (tidak lebih dari 1 tahun). Padahal untuk transaksi penjualan angsuran, realisasi piutang menjadi uang kas mungkin meliputi jangka waktu lebih dari satu tahun.

Dengan tidak menyimpang dari prinsip akuntansi yang lazim, maka “piutang penjualan angsuran” pada umumnya dapat dilaporkan sebagai golongan “aktiva lancar” dengan diberikan penjelasan tertentu sehingga jelas dan tidak menyesatkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan yang bersangkutan.. Misalnya, dengan memberikan “footnote” atau melampirkan daftar piutang penjualan angsuran dengan menyebutkan tanggal dan jangka waktu piutang tersebut akan menjadi jatuh tempo.

Untuk “laba kotor yang belum direalisasi” di dalam neraca dicantumkan ke dalam salah satu dari ketiga kelompok tersebut di bawah ini :

  1. Sebagai hutang (liability) dan dilaporkan di bawah kelompok “pendapatan yang masih akan diterima” (deferred revenue)
  2. Sebagai rekening penilaian (valuation account) dan mengurangi rekening “piutang penjualan angsuran”
  3. Sebagai rekening modal dan dicatat sebagai bagian dari laba yang ditahan(retained carnings)

Laba kotor yang belum direalisasi dari penjualan angsuran biasanya disajikan dalam kelompok hutang didalam neraca sebagai “pendapatan yang masih akan diterima” (deferred revenue).

Penyajian semacam ini dilaksanakan karena penjualan angsuran sesungguhnya menaikkan posisi modal kerja perusahaan. Tetapi pengakuan tambahnya modal kerja ini harus menanti pengubahan piutang penjualan angsuran kedlam uang tunai (menanti pembayaran piutang dari langganan yang bersangkutan).

Dari laba kotor itu harus dikecualikan terhadap laba yang tidak belum dapat diakui sehubungan dengan penentuan pajak pendapatan perusahaan (pajak perseroan) atau laba yang belum bisa dibagikan sebagai deviden sampai laba dari penjualan angsuran itu benar-benar sudah direalisasikan.

Apabila demikian keadaannya, maka terhadap laba kotor yang belum direalisasi dapat dikelompokkan kedalam (merupakan perwujudan dari) 3 elemen sebagai berikut :

  1. Suatu cadangan untuk menutup biaya-biaya penagihan piutang penjualan angsuran yang belum dibayar, termasuk biaya atau beban yang timbul karena pembeli gagal melunasi kewajibannya dan berakibat pemilikan kembali oleh si penjual (defaults and repossessions.

Cadangan demikian ini harus dikurangkan dari saldo piutang penjualan angsuran.

  1. Suatu hutang atau kewjiban yang akan dibayar untuk pajak perseroan (P.Ps) sesuai dengan bagian laba kotor yang belum diakui untuk ditarik pembayaran pajaknya. Hutang pajak semacam ini tidak boleh digabung dengan saldo pajak perseroan yang telah terhutang untuk laba yang sudah direalisasi dalam periode yang bersangkutan.

Apabila laba kotor yang bersangkutan sudah direalisasi maka pajaknya diperhitungkan pada tahun buku tersebut.

  1. Sisanya merupakan laba bersih yang berasal dari transaksi penjualan angsuran tersebut. Jumlah ini dapat dilaporkan sebagai bagian dari laba yang ditahan secara khusus (special retained earning) yang tidak bisa dipakai sebagai dasar pembagian deviden sampai piutang penjualan angsuran itu direalisasikan.

Dibawah ini diberikan contoh Neraca dan perhitungan laba-rugi dimana didalam neraca untuk “laba kotor yang belum direalisasi” dilaporkan seagai pendapatan yang masih akan diterima (deferred revenue) sesuai dengan praktek yang pada umumnya digunakan.

Didalam laporan perhitungan laba-rugi disajikan secara terpisah antara hasil-hasil penjualan regular dengan penjualan angsuran. Suatu ikhtisar mengenai perhitungan realisasi laba kotor dalam tahun buku yang bersangkutan, biasanya dibuat sebagai lampiran dari laporan perhitungan laba-rugi tersebut.

CONTOH :

PT Karya Bhakti menjual barang dagangannya sebagian atas dasar kontrak penjualan angsuran untuk masa ± 3 tahun disamping penjualan secara kredit, sejak beberapa tahun terakhir. Berikut ini neraca PT Karya Bhakti pada akhir tahun buku 1980:

PT KARYA BHAKTI, SEMARANG

Neraca, per 31 Desember 1980

sumber :

Similar Posts