Penyebab Tantrum Pada Anak dan Cara Untuk Mengatasinya

Penyebab Tantrum Pada Anak dan Cara Untuk Mengatasinya

Penyebab Tantrum Pada Anak dan Cara Untuk Mengatasinya – Tantrum anak-anak sering menangis keras, berguling-guling di lantai, dan berteriak. Cara mengatasi kondisi ini bisa dilakukan dengan memberi pengertian, dan mengalihkan perhatiannya.

Amukan anak adalah salah satu momok orang tua. Tangisan keras, berguling-guling di lantai, amukan dan teriakan sering terjadi pada fase amukan pada anak-anak.

Skenario ini membuat orang tua sering menanggung rasa malu dan merasa bahwa mereka sedang diuji oleh kesabaran mereka. Sebenarnya, apa yang menyebabkan amukan pada anak-anak? Lalu, apakah ada cara untuk mengatasi amukan anak?

Baca juga : Manfaat cengkeh untuk kesehatan tubuh kita

Memahami amukan anak dan fase mereka

Beberapa orang tua mungkin tidak tahu apa itu amukan. Arti amukan adalah suatu kondisi ketika seseorang menunjukkan ledakan kemarahan yang tidak terkendali. Kondisi ini biasa terjadi pada anak-anak, terutama balita.

Amukan anak – anak bisa berteriak, menginjak, menendang, berguling. Jadi, tantrum berarti keadaan ketika anak meluap emosinya secara berlebihan.

Tahukah Anda bahwa amukan memiliki fase? Berikut adalah lima fase amukan pada anak yang perlu diketahui orang tua.

Baca juga : Tips Menjaga Kesehatan Saat Berpuasa

1. Penolakan

Tantrum biasanya dimulai dengan penolakan. Misalnya, menolak perintah orang tua, atau bahkan merasa diabaikan. Pada fase ini, anak tidak akan mendengarkan kata-kata orang tuanya, dan malah lari dari Anda.

2. Kemarahan

Fase penolakan biasanya berakhir setelah orang tua memperbaiki perilaku anak. Pada titik ini, anak yang mengamuk mulai mengekspresikan kemarahannya. Bentuk kemarahan bisa berteriak, menangis, ke tempat berguling-guling di lantai, dan memukuli diri sendiri.

3. Bargain

Fase anak yang mengalami amukan ini bisa dianggap sangat menarik. Karena, anak mulai menawarkan penawaran dengan cara yang kreatif.

Misalnya dengan mengatakan, ” Jika saya membersihkan mainan saya, bisakah saya makan permen?”Jika Anda memberikan jawaban yang tidak memuaskan, anak akan memberikan tawaran lain.

4. Depresi

Fase keempat adalah yang paling menantang. Pada fase ini, amukan anak dapat mengindikasikan tangisan palsu. Sebagai orang tua, Anda bisa merasa bersalah. Anak itu hanya berpura-pura.

5. Menyerah

Akhir dari fase tantrum adalah pengunduran diri. Namun, ini sebenarnya menunjukkan sikap dendam anak. Anak itu akan berhenti menangis dan sepertinya menyerah. Bahkan, anak memikirkan cara lain untuk mencapai keinginannya.

Jenis amukan pada anak-anak

Selain fase-fase di atas, ada juga beberapa jenis amukan pada anak yang bisa dikenali orang tua.

Baca juga : Manfaat Minum Jus Lidah Buaya Untuk Kesehatan

1. Amukan frustrasi

Amukan frustrasi atau lelah umumnya terjadi ketika seorang anak merasa lapar, lelah, atau gagal melakukan sesuatu.

Kemarahan yang menumpuk ini akhirnya tumpah menjadi tangisan atau bahkan amukan pada bayi atau anak dapat berlangsung selama beberapa waktu.

2. Tantrum yang menuntut

Amukan ini terjadi ketika anak ingin Anda melakukan sesuatu untuknya. Misalnya, anak ingin Anda bermain dengannya ketika ada tamu di rumah, atau dia ingin Anda membelikannya mainan sekarang.

3. Tantrum penolakan

Tantrum penolakan terjadi ketika seorang anak menolak atau enggan melakukan sesuatu. Misalnya, ketika Anda meminta seorang anak untuk makan, dia menolak dan malah menangis atau bahkan mengamuk.

4. Tantrum chaos

Amukan kacau dapat terjadi di tempat umum, seperti restoran atau toko. Dalam kondisi ini, anak biasanya berteriak, berdetak, dan duduk di lantai agar keinginannya dipatuhi.

5. Raging fury

Amukan ini terjadi ketika anak kehilangan kendali secara fisik dan emosional. Akibatnya, dia berteriak, menendang, atau memukul. Anak mengamuk dan dapat membahayakan dirinya sendiri atau orang lain.

You May Also Like

About the Author: Novian

Leave a Reply

Your email address will not be published.