Pola Evaluasi PPKn ABK

Pola Evaluasi PPKn ABK

Pola Evaluasi PPKn ABK

Pola Evaluasi PPKn ABK
Pola Evaluasi PPKn ABK

Penilaian (evaluasi) dalam PPKN adalah penilaian yang hendak mengungkap tentang sejauh mana siswa telah menghayati nilai-nilai Pancasila sebagai hasil belajar. Penilaian yang dilakukan dalam rangkaian pengajaran PPKN tentunya merupakan penilaian efektif karena memperhatikan titik berat tujuan PPKN itu sendiri yang diletakkan pada pengembangan ranah sikap dan nilai. Dimana ini merupakan target utama (prioritas) tujuan pengajaran PPKN. Nilai-nilai yang memancar dari pancasila melalui kegiatan yang rasionalitas diinternalisasikan pada diri siswa untuk selanjutnya diharapkan menjadi identitas yang melekat dalam sikap (attitude) mereka.

Pengertian Evaluasi PPKN

Istilah evaluasi bukan merupakan istilah yang asing sekarang ini, sebab evaluasi bukan hanya dilakukan di bidang pendidikan saja, melainkan juga di bidang-bidang lain. Walaupun istilah evaluasi dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan “penilaian”, namun tampaknya istilah evaluasi sudah menjadi bahasa asing yang di Indonesiakan.

Hal tersebut membawa makna bahwa PPKN harus bisa menyanggupkan siswa dengan kesadarannya sendiri untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ini dikarenakan, proses belajar mengajar PPKN belum bisa dikatakan paripurna jika hanya berlangsung dengan kegiatan mengajar dan menerima pelajaran begitu saja oleh guru dan siswa. Akan tetapi, hasil belajar siswa perlu diketahui, dan kegiatan ini justru ditempatkan pada tahap yang terakhir yang tidak kalah pentingnya dengan tahap-tahap sebelumnya. Karena pada kegiatan pengukuran ini akan diketahui tingkat keberhasilan siswa dalam belajar PPKN dalam arti yang sesungguhnya. Pada gilirannya (terutama pada siswa) diharapkan dapat merefleksikan hasil pengukuran tersebut untuk menilai dirinya sendiri tentang kebolehannya dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila.

Jadi, dapat dipahami bahwa penilaian dalam PPKN adalah pengukuran dan penilaian segi afektif dengan tetap memperhatikan aspek kognitif dan psikomotor. Dikarenakan pengukuran dan penilaian terhadap pencapaian tujuan pendidikan (hasil pendidikan) akan memberikan umpan balik bagi proses pendidikan itu sendiri, maka hasil evaluasi itu dapat dijadikan dasar untuk mengkaji apakah proses pendidikan berjalan dengan baik, apakah metodenya sudah tepat, guru berfungsi dengan baik, apakah sistem sudah terorganisasi dengan teratur, dan sebagainya.

Prinsip-Prinsip Evaluasi PPKN

  1. Valid

Mengukur objek yang seharusnya diukur dengan alat ukur yang tepat dimana ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran.

  1. Mendidik

Dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement).

  1. Berorientasi pada kompetensi

Melakukan penilaian seputar pengetahuan, sikap, dan keterampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

  1. Adil dan Obyektif

Mempertimbangkan rasa keadilan dan objektivitas siswa tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran.

  1. Terbuka

Dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (shake holders), sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa yang merugikan semua pihak.

  1. Berkesinambungan

Dilakukan terus menerus dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan siswa dapat dipantau melalui penilaian.

  1. Menyeluruh

Mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar dipertanggung jawabkan pada semua pihak.

  1. Bermakna

Hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindak lanjuti oleh pihak-pihak yang berkepantingan dimana mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat, dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah prinsip kontinuitas, yaitu dimana guru secara terus menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan siswa. Dari berbagai pengamatan itu, ada yang pelu dicatat secara tertulis terutama tentang prilaku yang ekstrim/menonjol yang harus diikuti dengan bimbingan.

Sumber : https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/03/18-pengertian-kewirausahaan-menurut-para-ahli.html