Agama

Qashar Shalat dalam Perjalanan

Qashar Shalat dalam Perjalanan

Qashar Shalat dalam Perjalanan

Para imam telah ijma’ (sepakat) bahwa musafir (orang yang bepergian) boleh mengqashar shalat yang empat rekaat menjadi dua rekaat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai hukum qashar itu.
Ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa qashar itu wajib ‘ain atas tiap-tiap musafir. Dengan demikian, yang difardhukan hanyalah dua rekaat saja. Jadi, apabila ia berniat shalat empat rekaat dan tidak duduk setelah dua rekaat yang pertama, batallah shalatnya karena ia telah meninggalkan fardhu duduk yang akhir.
Sebaliknya apabila ia duduk setelah dua rekaat pertama, sah-lah fardhunya dan dua rekaat yang akhir itu dianggap sunnah. Begitu pula menurut pendapat Hadawiyyah.

Al-Khaththabi dalam kitab Ma’alimus Sunan berkata, “Adapun kebanyakan ulama salaf dan fuqaha beberapa kota menyatakan bahwa qashar shalat dalam perjalanan itu adalah wajib hukumnya, dan itulah pendapat sayyidina Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Qatadah, dan Al-Hasan ”.
Adapun tiga Imam, yaitu Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa qashar shalat itu bukan wajib ain, melainkan hanya rukshah (keringanan). Ketiga imam tersebut mengambil dalil dengan Nash AlQur’an, Al-Hadis, dan Qiyas.

a. Nash Al-Qur’an ialah firman Allah SWT, QS. An-Nisa’: 101

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

b. Hadis Rasulullah SAW mengenai shalat qashar sebagai rukhshah, beliau bersabda:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ الّلهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ

“Hal itu merupakan sedekah yang telah di berikan oleh Allah kepada kalian. Maka terimalah shadaqah itu ”

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

c. Sedangkan Qiyas dalam hal ini, ada dua alasan

a) Para ulama telah sepakat mengenai sahnya orang yang bepergian (musafir) mengikuti fardhunya orang yang mukim, yaitu menyempurnakan shalat. Seandainya qashar itu fardhu, tentulah tidak boleh kepada orang yang mukim, misalnya dalam shalat subuh, karena fardhunya dua rekaat, ia tidak berubah dengan sebab orang shalat dzuhur.

b) Qashar itu merupakan suatu rukhshah yang diberikan kepada orang-orang yang bepergian sebagaimana juga mengusap muzah (sepatu) dan berbuka pada siang hari bulan Ramadhan. Semua Rukhshah termasuk perkara yang boleh ditinggalkan atas kesepakatan para ulama. Demikian juga masalah qashar dalam shalat. Adapun dalil yang dijadikan hujjah yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ia berkata, “ Rasulullah SAW datang kepada kami ketika kami dalam keadaan sesat, lalu membimbing kami dan beliau memerintahkan kepada kami untuk shalat dua rekaat dalam perjalanan”. (HR. An-Nasa’i)

Akan tetapi, mengenai hukum dari shalat qashar itu sendiri mereka berbeda pendapat, yaitu:

a. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa qashar hukumnya sunnah muakad yang apabila ditinggalkan dengan sengaja wajib i’adah pada waktunya, dan ketinggalan karena lupa maka wajib sujud sahwi.
b. Ulama hanabilah berpendapat bahwa qashar itu lebih utama. Dan itu yang mashur dari Madzhab Syafi’i apabila perjalanan itu 3 hari, dan apabila kurang dari 3, dan apabila kurang dari 3 hari maka menyempurnakan itu jauh lebih utama.

Similar Posts