Rekayasa Sosial Jadi Modus Pelaku Kejahatan di Platform Digital

Rekayasa Sosial Jadi Modus Pelaku Kejahatan di Platform Digital

Rekayasa Sosial Jadi Modus Pelaku Kejahatan di Platform Digital

Rekayasa Sosial Jadi Modus Pelaku Kejahatan di Platform Digital
Rekayasa Sosial Jadi Modus Pelaku Kejahatan di Platform Digital

Aksi pelaku kejahatan dengan cara rekayasa sosial telah menjadi salah satu modus

yang banyak digunakan pelaku kejahatan di platform digital, tak terkecuali di Gojek.

Hal ini tidak lepas dari metode yang digunakan biasanya tidak memerlukan alat atau perangkat lunak canggih. Biasanya, para pelaku memanfaatkan kondisi psikologis korban untuk melakukan manipulasi.

Menurut Chief Information Security Gojek George Do, modus semacam ini

sebenarnya sudah menjadi masalah dunia, tidak hanya di Indonesia atau Gojek. Untuk itu, masyarakat perlu mengetahui cara menghindari aksi semacam ini.

Baca Juga

Viral di Media Sosial, MUI Bantah Soal Fatwa Haram Netflix
Pembeli Prioritas di Bukalapak Kini Bisa Nikmati Konten Premium Vidio
BRTI Kaji Autentikasi Biometrik untuk Registrasi Kartu SIM

“Masalah yang ada saat ini kebanyakan rekayasa sosial. Karenanya, edukasi menjadi hal penting untuk mengatasi masalah ini,” tuturnya di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Senada dengan George, Kanit II Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya AKBP Dhany Aryanda

mengatakan soal keamanan akun itu menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna.

“Apabila perangkat sudah dibekali dengan sistem yang baik, tapi penggunanya tidak aware, tentu akan menjadi susah,” tuturnya.

Dhany juga mengatakan tindakan kriminal seperti penipuan online itu biasanya dari aksi rekayasa sosial. Selain itu, Dhany mengatakan sepanjang 2019 ada 2.300 pelaporan terkait rekayasa sosial yang berujung pada penipuan online. Jumlah ini sebenarnya terus naik dari tahun ke tahun.
2 dari 2 halaman
Titik lemah

Head of Swiss German University Lab, Deputy Head of Masters Program on International Technology Charles Lim mengatakan, keamanan siber itu sebenarnya terdiri dari tiga komponen, yakni manusia, proses, dan teknologi.

“Biasanya saat terjadi serangan siber, yang sering disalahkan itu teknologi. Padahal, keamanan siber itu banyak ditentukan oleh manusia, sehingga serangan siber banyak menyerang manusia,” tuturnya menjelaskan.

Dalam hal ini, dia juga mengatakan tindakan kriminal di platform digital yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, biasanya memanfaatkan psikologi manusia.

Untuk itu, pengguna layanan atau platform digital diminta untuk selalu menjaga keamanan akunnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah selalu waspada terhadap informasi yang diterima.

 

Baca Juga :