Rukun puasa Beserta Haditsnya

Rukun puasa Beserta Haditsnya

Rukun puasa Beserta Haditsnya

 

Rukun puasa Beserta Haditsnya
Rukun puasa Beserta Haditsnya

Pada waktu kita berpuasa, ada dua rukun yang harus diperhatikan, yaitu:

1) Niat, yaitu menyengaja untuk berpuasa

Niiat puasa yaitu adanya suatu harapan didalam hati untuk menjalankan puasa semata-mata mengharap ridha Allah Swt, alasannya ialah menjalankan perintah-Nya. Semua puasa, tanpa adanya niat maka tidak sanggup dikatakan sebagai puasa. Untuk puasa wajib, maka kita harus berniat sebelum hadir fajar, Sementara itu untuk puasa sunnah, kita di bolehkan berniat setelah terbit fajar, dengan syarat kita belum melaksanakan perbuatan-perbuatan yang membatalkan puasa, menyerupai makam, minum, bekerjasama suami istri, dan lain-lain.

مَنْ لَمْ يَجْمِعِ الّصِيَامَ قَبْلَ الْفَجْـرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ
Artinya Artinya: Barangsiapa siapa yang meneguhkan niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah.”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi , dan Nasa’i)

2) Meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari

Yang sanggup membatalkannya ada empat macam:Segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga melewati mulut, berupa makanan atau minuman yang menjadi konsumsi fisik atau tidak menjadi konsumsi fisik. Sedangkan yang menjadi konsumsi fisik tapi tidak masuk melalui mulut, menyerupai jarum infus dan sebagainya, dianggap tidak membatalkan puasa.

Hadits

Sengaja muntah, sedang yang tidak segaja maka tidak membatalkan: Rasulullah bersabda:
مَنْ ذَرَعَهُ اَلْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ
Artinya: “Barang siapa yang terpaksa muntah, maka ia tidak wajib qadha’ sedangkan yang sengaja maka ia wajib qadha ‘ .
Istimna’, yaitu sengaja mengeluarkan sperma , baik alasannya ialah ciuman dengan istri, atau sentuhan tangan maka hukumnya batal. Sedangkan kalau melihat saja, atau berpikir saja maka tidak membatalkannya. Demikian keluarnya madzi, tidak menghipnotis puasa.
jima’, alasannya ialah Allah Swt berfirman tidak memperbolekannya kecuali di waktu malam.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ
Artinya: “Dihalalkan bagi kaum pada malam hari bulan pahala bercampur dengan isteri-isteri engkau; mereka ialah pakaian bagimu, dan engkaupun ialah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui sebetulnya engkau tidak sanggup menahan nafsumu, alasannya ialah itu Allah mengampuni engkau dan memdiberi maaf kepadamu.
Semua hal yang membatalkan ini disyaratakan harus dilakukan dengan ingat kalau ia sedang berpuasa. Maka kalau ia makan, minum, iatimna’ atau muntah, atau bekerjasama suami istri dalam keadaan lupa maka tidak membatalkan puasanya, baik dalam bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan. Baik dalam puasa wajib atau puasa sunnah, alasannya ialah Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
Artinya: “Barang siapa lupa ia sedang puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya, alasannya ialah Allah yang memdiberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: