Sejarah Kemunculan Syiah

Sejarah Kemunculan Syiah

Sejarah Kemunculan Syiah

Sejarah Kemunculan Syiah
Sejarah Kemunculan Syiah
Sobat, sebagian dari kita mungkin tidak mengetahui tentang Syi’ah. Syiah kembali mendapat sorotan setelah muncul kasus di Sampang Madura dan yang terakhir di Suriah. Syi’ah merupakan  salah satu aliran atau mazhab yang  menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah sebelum Khalifah Ali bin Abu Thalib. Secara kasat mata memang sulit membedakan ajaran Islam dengan ajaran Sya’ah. Namun jika dikaji mendalam dari sisi akidah, keduanya tidak dapat menyatu ibarat minyak dan air. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah. Penasaran dan tidak ingin terjerumus? Baca terus artikel tentang Sejarah Kemunculan Syiah berikut ini.

Syi’ah muncul sejak kematian khalifah Utsman bin ‘Affan

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman umat Islam tidak pernah mengalami perselisihan. Pada akhir masa kepemimpinan Utsman barulah terjadi perpecahan seperti muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman. Mereka kemudian membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.
Syi’ah dalam sejarah terpecah menjadi lima sekte utama yakni Kaisaniyyah, Imamiyyah (rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Ternyata kelima sekte tersebut melahirkan sekian banyak cabang-cabang sekte lainnya. Dari kelima sekte ini, Sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi.

Rafidhah menurut bahasa arab bermakna meninggalkan

sedangkah dalam terminologi syariat bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat nabi.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata

“Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)

Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari berkata

“Tatkala Zaid bin ‘Ali muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan kepada mereka:
 “Kalian tinggalkan aku?”
Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).

Pencetus paham syiah ini adalah seorang yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin saba’ al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Abdullah bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menurut persangkaan mereka).
Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).

Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu

sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka melarikan diri.
Abdullah bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib.

Dengan kedok keislaman

semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah), ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat (bahkan kufur) yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izz hlm. 490, dan Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123).
Pastinya Rafidhah adalah Syi’ah, namun Syi’ah belum tentu Rafidhah. Pasalnya tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakar dan ‘Umar. Ini sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah, sekte ini merupakan sekte syiah yang paling ringan kesalahannya.
Nah Sobat, demikian artikel Sejarah Kemunculan Syiah. Tetaplah bepegang teguh keimanan terhadap Allah dan ajaran Nabi-Nya. Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang kelak akan bertemu surga.
Baca juga artikel: