Pendidikan

Strategi Pembelajaran Life Skills

Strategi Pembelajaran Life Skills

Strategi Pembelajaran Life Skills

Strategi Pembelajaran Life Skills
Strategi Pembelajaran Life Skills

1. Proses Pembelajaran dan Pelaksanaan Pendidikan yang Berorientasi pada Life Skills
“Life Skills Education” diberikan secara tematis mengenai masalah-masalah kehidupan nyata sehari-hari. Tema-tema yang ditetapkan harus betul-betul bermakna bagi siswa, baik untuk saat ini maupun untuk kehidupan di kelak kemudian hari. Pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah secara kasus yang dapat dikaitkan dengan beberapa mata pelajaran lain untuk memperkuat penguasaan life skills tertentu. Dengan pendekatan pemecahan masalah kehidupan sehari-hari para siswa menjadi semakin terlatih untuk menghadapi kehidupan yang nyata.[7] Tema yang disajikan dapat berupa bahan diskusi untuk masing-masing kelas, untuk tingkat kelas yang sama dan untuk seluruh siswa. Cakupan untuk setiap mata pelajaran juga perlu ditata-ulang dan diatur kembali alokasi waktu dan jamnya dalam setiap minggu. Di dalam alokasi jam pelajaran yang sudah diajarkan selama ini, untuk jam-jam pelajaran tertentu perlu disepakati pengurangannya untuk direalokasikan sebagai kontribusi kepada kegiatan life skills education menjadi kumpulan jam pelajaran untuk membahas tema tertentu bersama-sama dengan semua mata pelajaran terkait. Metodologi pembelajaran dapat dirancang dalam bentuk kegiatan yang memadukan proses belajar di kelas dan praktek di lapangan dan dilakukan secara partisipatif dengan metode-metode ceramah (30 %) sisanya adalah simulasi, praktek, diskusi kelompok dan game.[8]
2. Landasan Pelaksanaan Pengembangan Life Skills
Adapun landasan yang menjadi pijakan dalam pelaksanaan pengembangan life skills, antara lain:
a. Landasan yuridis secara universal
Yang dapat dijadikan acuan pada landasan ini adalah rekomendasi dari UNESCO tentang “empat pilar pembelajaran” yang isinya adalah:[9]
1) Learning know or learning to learn
Maksudnya adalah program pembelajaran yang diberikan hendaknya mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat sehingga mau dan mampu belajar. Learning to Know merupakan kemampuan kognitif yang meliputi:[10]
a) Kemampuan membuat keputusan dan memecahkan masalah.
b) Kemampuan berpikir kritis dan rasional.
Dengan kecakapan berpikir rasional ini (thinking skill), diharapkan seseorang tidak akan gamang menghadapi kehidupan, sehingga dia dapat menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan.
2) Learning to do
Maksudnya adalah bahan belajar yang dipilih hendaknya mampu memberikan suatu pekerjaan alternatif kepada peserta didik.
3) Learning to be
Maksudnya adalah mampu memberi motivasi untuk hidup di era sekarang dan memiliki orientasi hidup ke masa depan. Learning to be merupakan kecakapan personal (personal skill) yang dimiliki oleh seseorang untuk memiliki kesadaran atas eksistensi dirinya dan kesadaran akan potensi dirinya[11]. Kesadaran akan eksistensi diri merupakan kesadaran atas keberadaan diri. Kesadaran atas keberadaan diri dapat dilihat dari beberapa sisi. Misalnya kesadaran diri sebagai makhluk Allah, sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk hidup, dan sebagainya. Kesadaran akan potensi diri adalah kesadaran yang dimiliki seseorang atas kemampuan dirinya. Dengan kesadaran atas kemampuan diri itu seseorang akan tahu kelebihan dan kekurangannya, kekuatan dan kelamahannya. Dengan kesadaran eksistensi diri dan potensi diri, seseorang akan dapat menempuh kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan dan mampu memecahkan masalah hidup dan kehidupannya.
4) Learning to live together
Maksudnya adalah pembelajaran tidak hanya cukup diberikan dalam bentuk ketrampilan untuk diri sendiri, tetapi ketrampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
b. Landasan yuridis secara nasional
Yang dijadikan acuan pada landasan ini adalah UUD pasal 31 tentang pendidikan, kemudian UU No.2 tahun 1989 dan UU No.23 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, seperti pada pasal 4 ayat 4 yang berbunyi: “Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
c. Landasan humanisme-teosentrisnya
Yang dijadikan acuan pada landasan ini adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis yakni prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersifat universal, yang implementasi ajaran ini dapat fleksibel, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Landasan pelaksanaan pengembangan life skills dalam pendidikan agama Islam menurut al-Qur’an, seperti pada surat al-Baqarah: 30, an-Naml: 62, Shad: 26 dan Yunus: 14 tentang tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi yang tentu membutuhkan pendidikan kecakapan hidup.[12]
Adapun menurut al-Hadis yakni HR. Bukhari-Muslim tentang lima hal yang perlu dipertimbangkan dalam berumah tangga. Hadis tersebut yang dijadikan landasan pelaksanaan pengembangan life skills.[13]

Sumber :

Similar Posts