Syarat Jadi Imam Dalam Sholat Sesuai Petunjuk Rasulullah

Syarat Jadi Imam Dalam Sholat Sesuai Petunjuk Rasulullah

Syarat Jadi Imam Dalam Sholat Sesuai Petunjuk Rasulullah

Syarat Jadi Imam Dalam Sholat Sesuai Petunjuk Rasulullah
Syarat Jadi Imam Dalam Sholat Sesuai Petunjuk Rasulullah

Menjadi imam dalam sholat

bukan pekerjaan gampang, karna tanggung balasan imam sholat sangat berat dalam sholat berjamaah, sahnya sholat berjamaah sangat ditentukan oleh imam, oleh lantaran itu banyak orang yang tidak mau menjadi imam disebabkan oleh banyak faktor, terutama wacana soal pemahaman agama, juga duduk kasus bacaannya harus fasih dan yang paling memberatkan yakni tanggung jawabannya dikala sholat berjamaah tidak sah disebabkan lantaran kesalahan imam.
Rasulullah bersabda, “Para imam (dalam shalat) itu yakni para penjamin (bagi makmunnya).” Maka tidak pantas bila seseorang maju menjadi imam shalat di satu lingkungan dimana masyarakatnya membencinya. Selama seseorang bisa untuk lebih menentukan mengumandankan adzan, maka itu lebih baik baginya daripada menjadi imam, lantaran hal tersebut lebih selamat baginya. Berdasarkan pendapat yang paling shaih, jabatan imam shalat paling baik di manfaatkan kepada yang paling bisa memikulnya. Karena itu, Rasulullah senantiasa menjadi imam lantaran beliaulah yang paling bisa memikul tanggung jawabannya.

Seorang imam hendaknya sanggup menjaga waktu-waktu shalat, atau tepatnya shalat di awala waktu, lantaran di awala waktu terdapat ridha Allah, sedangkan di tamat waktu yang ada spesialuntuklah maaf-Nya. Kaprikornus ridha Allah lebih istimewa dari pada maaf-Nya.

Saat melaksanakan shalat, hendaknya imam berhenti sejenak di tiga tempat, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Tempat pertama yakni ketika membaca doa Iftitah secara lirih, dan inilah waktu berhenti yang terlama. Kedua, setelah membaca al-Fatihah dan sebelum beralih membaca surah (ayat-ayat) lain, usang berhentinya setengah dari yang pertama. Ketiga, setelah membaca surah dan sebelum ruku’, inilah waktu berhenti yang paling pendek.

Baca Juga: Ayat Kursi

Seorang makmum tidak dibenarkan menlampaui imam

Bahkan ia dilarang bergerak untuk melaksanakan ruku’ selama imam belum benar-benar dalam posisi ruku’ (yang sempurna). Hal ini juga berlaku pada tiruana rukun shalat lainnya.

Dikatakan bahwa insan yang sudah selesai shalat itu ada tiga macam: Pertama, insan yang memperoleh dua puluh lima pahala shalat. Mereka inilah yang bertakbir dan ruku’ setelah imam dalam posisi ruku’. Kedua, insan yang spesialuntuk memperoleh satu pahala shalat, yaitu mereka yang gerakan shalatnya bersamaan dengan gerakan imam. Dan ketiga yakni insan yang tidak mendapatkan pahala shalat, yaitu mereka yang menlampaui gerakan imam.

Para ulama tidak sama pendapat dalam masalah, apakah imam harus memperpanjang waktu ruku’nya biar jama’ah yang gres hadir (telat) sanggup memperoleh keutamaan shalat berjama’ah? Barangkali lebih baik bagi imam untuk melaksanakan hal tersebut – memperpanjang waktu ruku’- dengan disertai keikhlasan bila memang perbedaan waktunya tidak terlalu nampak (antara satu ruku’ dengan ruku’ lainnya).

Lalu ketika imam membaca qunut dalam shalat shubuh, maka mengucapkan amin mulai dari bacaan Allaumma ihdina sampai bacaan innaka taqdi wa la yuqdha ‘alaika. Sesudah imam selesai membaca qunut, makmum sanggup bahu-membahu dengan imam mengucapkan asyhadu dengan bunyi lirih.