Teori-teori Pembelajaran yang efektif

Teori-teori Pembelajaran yang efektif

Teori-teori Pembelajaran yang efektif

Teori-teori Pembelajaran yang efektif

Banyak para tokoh filsafat dan tokoh pendidikan

memberikan teori-teori belajar yang efektif. Teori belajar behaviorisme berpandangan bahwa proses pembelajaran terjadi sebagai hasil pengajaran yang disampaikan guru melalui atau dengan bantuan media (alat). Sedangkan teori belajar konstruktivisme berpandangan bahwa media digunakan sebagai sesuatu yang memberikan kemungkinan siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan.
Kozma (1991) menyatakan bahwa media dapat dibedakan dari teknologi (mekanik, elektronik, bentk fisik), sistem simbolik (karakter alpha-numerik, objek, gambar, suara) serta sarana yang digunakan (radio, video, komputer, buku). Adanya perbedaan teori pendidikan yang diterapkan membawa konsekuensi terhadap bagaimana kegiatan belajar mengajar harus diformulasikan. Model didaktik berpandangan bahwa di dalam kegiatan belajar, guru merupakan agen aktif dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa (instruktivisme), sedangkan model komunikasi berpendapat bahwa siswa membangun sendiri pengetahuannya dari pengalaman yang diperolehnya (konstruktivisme).
Sejalan dengan adanya perbedaan dasar paedagogi tersebut, timbul pula pandangan mengenai bagaimana komputer harus diperankan dalam pendidikan. Dalam pandangan instruktivisme, komputer berperan untuk mengajarkan pengetahuan kepada siswa, sebagaimana halnya seorang guru, sedangkan dalam pandangan konstruktivisme, komputer berperan hanya sebagai media dalam belajar, seperti halnya OHP, TV, Video, laboratorium dan perpustakaan.
Mengingat kedua peran di atas merupakan komponen penting dari lingkungan belajar (learning environment) maka tidaklah benar penilaian memandang bahwa yang satu lebih baik dari yang lain. Jika kegiatan semata-mata berorientasi pada siswa, dengan asumsi bahwa komputer tidak lebih dari media pasif, maka perencanaan mengenai kegiatan instruksional tidak memiliki relevansi, sebab siswa yang melakukan sesuatunya. Tetapi mengingat bagaimanapun perencanaan mengenai kegiatan harus dilakukan oleh guru, bukan oleh siswa, mulai dari pengorganisasian kegiatan belajar, pemilihan bahan ajar yang sesuai, sampai penyiapan lingkungan belajar untuk setiap tahap belajar yang dilakukan oleh siswa, maka keduanya (guru dan siswa) memegang peranan penting dalam pengembangan wacana kegiatan kelas. Jadi tidaklah mungkin siswa belajar sendiri dengan komputer tanpa bantuan guru dibelakangnya.
Andaipun lingkungan belajar dipandang sebagai media pasif, seorang harus menyediakan segala bahan dengan segala sifat khsususnya, atau memilih model yang paling tepat untuk suatu proses atau fenomena. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan komputer yang sudah dirancang suatu program pembelajaran akan dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Program yang digunakan dalam penelitian ini adalah MS. powerpoint. Program ini adalah salah satu aplikasi dalam paket microsoft office. Dengan MS. powerpoint, dapat berkreasi menyusun presentasi semenarik mungkin, sesuai dengan kebutuhan.

Baca Juga :